Rabu, 15 Juni 2016

NIETZCHE & CINTA PLATONIS

Ini bukan kisah penulisan resume resume ilmiah mengenai filsafat. Ini bukan pengkultusan dari autobiografi murid dan guru besarnya. Ini bukan bagian dari hasil desertasi sosial klasikal yang di presentasikan hanya untuk meraih nobel kemanusiaan.
Ini hanya tentang cerita yang lebih sederhana dari itu. Kisah yang telah merubah kebesaran sebuah dunia. Melompat jauh dari arah terbitnya matahari panas menyengat ke dalam gelap nan tenang. Meniadakan panggilan jiwa membelenggu ambisi serta prestasi.
Frederich Nietzche anak manusia yang mengaku telah membunuh tuhan karena patah hati. Menderita dalam ketiadaan rasa yang begitu lama. Menanggalkan gelar professor untuk bersemayam dalam kesunyian hingga menjadi gila. Mengaku pernah mencintai sosok wanita yang cantik nan pintar karena ia dapat menguasai ilmu filsafat di usia 17. Lou Salome namanya. Pertemuan tahun 1882 menjadi legenda bagi mereka dan dunia. Lou di puji dan puja oleh para penulis baik tua maupun muda Hingga membuat Nietzche semakin di mabuk cinta. Tapi hidup adalah sebuah misteri yang sukar di prediksi. Hati Nietzche hangus di lahap api. Luka bernanah terkoyak oleh surat kiriman Lou yang bersenandung riang memberitahukan bahwa ia akan menikah dengan Paul Ree penulis juga alcoholic. Gelap, ya hidup bagai tak disinari harapan. Kering tak disirami bahagia, serta rapuh kian melanda. Bersembunyi dari keramaian, menyendiri ditengah perenungan.Dari situlah arah angin kemudian berbalik. Kesendirian telah menghasilkan karya karya peaohor. Teori ternama di temukan meski cinta dan tuhan telah sama sama mati.
Sekilas terbayang kisah gurunya di masalalu. Kala di Yunani plato mengukir sejarah dengan karya bernama Symposium. Sebuah aforisma menjelma menjadi dogma. Adalah fatwa plato atas cinta bernama Cinta Platonis atau Plotonic Love atau amor de platonia. Fakta bahwa cinta tak harus memiliki juga mencintai dalam diam. Sungguh penderitaan yang lazim. Plato berkata bahwa cinta itu tak bisa diwujudkan. Ia tak berbentuk dan bukan materi. Ia bersemayam di alam ide dan hidup bersama ekspektasi. Mungkin beberapa orang pernah menyatakan cinta. Tapi sesungguhnya cinta tak akan pernah bisa hadir sampai kapanpun. Maka orang itu telah berdusta. Kini sang seniman pikiran telah pergi. Di bunuh kembali oleh cinta dan tuhan yang pernah di bunuhnya. Tapi kisah dan karyanya membekas. Tersebar ke penjuru dunia. Ada yang tahu dan ada yang tidak bahwa Nietzche pun menderita karena cinta. Bapak nihilisme yang tinggal dan melahirkan teori otentik tentang filsafat dalam kegelapan hati. Murid dari plato sang pemendam cinta.
Semoga mereka bahagia dalam kesunyian.
Rabu, 9 Juni 2016 : 11.57 wib
Achmad Rohani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar