Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Juni 2016

RENJANA

Pernahkah kau mendengar kisah sepasang kekasih yg saling mencintai namun tak bisa bertemu karena terpisah jarak, tempat dan waktu?
Pernahkah kau membaca riwayat si pemuja cinta yg haus akan kerinduan pada sosok yg dinantinya, sehingga siang malam ia menjadi gila karena tak pula berjumpa?
Sahabat, mari kuceritakan seseorang anak manusia yg mengabdi pada apa yg dicintainya. Ia tegar meski rapuh, penuh derita menahan rindu berkepanjangan. Sebuah kisah penuh cinta kasih juga hasrat kerinduan. Kisah inspirasi yg ku sebut renjana...

NIETZCHE & CINTA PLATONIS

Ini bukan kisah penulisan resume resume ilmiah mengenai filsafat. Ini bukan pengkultusan dari autobiografi murid dan guru besarnya. Ini bukan bagian dari hasil desertasi sosial klasikal yang di presentasikan hanya untuk meraih nobel kemanusiaan.
Ini hanya tentang cerita yang lebih sederhana dari itu. Kisah yang telah merubah kebesaran sebuah dunia. Melompat jauh dari arah terbitnya matahari panas menyengat ke dalam gelap nan tenang. Meniadakan panggilan jiwa membelenggu ambisi serta prestasi.

Senin, 01 Februari 2016

Trotoar (part II)



Dua tahun kemudian. Aku belum sempat melanjutkan sekolah hingga tingkat SMP. Hal itu di sebabkan karena semua sekolah menolak permintaan orang tuaku yang mendaftarkan namaku. Mereka selalu melihat latar belakang keluargaku.

“Maaf ya pak, bu... sekolah kami sudah penuh siswa-siswinya, mungkin sekolah lain bisa menerima anak bapak dan ibu”. Alasan yang selalu di lontarkan oleh pihak sekolah. Aku pun tak tahu harus bagaimana. Hanya orang tuaku yang tahu harus berbuat apa. Ayah dan ibu tetap berjuang mencari sekolah untukku. Mereka pantang untuk menyerah. Meski

Rabu, 20 Januari 2016

Trotoar (part I)

Biarlah aku di caci dunia. Biarlah aku di pandang sebelah mata. Toh masih adalah mulut  ini yang menghiburku. Masih ada tangan yang menemani dan kaki sebagai penuntun. Bagi anak sepertiku yang sehari-hari berkeliaran membawa ukulele naik turun angkutan umum, masuk keluar warung dan toko-toko untuk mencari sedikit harapan untuk hidup ini sudah biasa jika di rendahkan oleh kebanyakan orang. Tapi itu tentu bukan persoalan berarti. Bagiku hidup itu tidak ada bedanya dengan omong kosong. Setiap hari di tengah keramaian, aku berjumpa dengan orang-orang yang katanya hebat, pintar, bahkan ada di antara mereka punya kedudukan. Namun di mata ku mereka sama denganku. Para pengemis. Cuma bedanya mereka mengemis ilmu, harta,  jabatan dan pujian dari sesama mereka. Untuk apa? Tentu saja untuk di ceritakan kepada anak cucu mereka lah. Bangga? Oh sudah pasti.

Selasa, 12 Januari 2016

Haii.. Aku siapa yah?

Awalnya sih sempet ragu di ajak buat ikut Mapaba ke salah satu villa di sawangan yang di promosikan sebagai kegiatan ‘jalan-jalan’ versi mahasiswa itu sama temen. Tapi sebagai Mahasiswi yang Bermazhab Hedonis-siyah kayaknya hukumnya ‘fardhu Ain’ buat ikut soalnya kan aku bisa jalan-jalan sekaligus ber-Selfi ria di acara tersebut. Belum jalan aja aku udah ga sabar mau buru buru jalan, semua keperluan udah aku siapin. For example, baju buat berangkat terus baju pas nyampe disana, baju buat JJS an bareng sista sista yang imut, gaun pas malemnya sampe Baby doll cute buat tidur. I’m ready Now! Let’s take many picture tomorrow.

Senin, 11 Januari 2016

Ekspektasi Cinta

September 2003

Jika cinta adalah anugerah, maka dirinya memang satu satunya anugerah terindah bagiku. Dia adalah wujud Cinta Tuhan untukku. Karena dengan mengenalnya aku mampu menemukan kekuatan baru dalam diriku. Kekuatan yang paling besar yang pernah ku miliki. Kombinasi antara Keyakinan dan Harapan.

Namaku Dio, Kelas 6 SD waktu itu. Aku adalah seorang anak yang senang bermimpi. Mimpiku suatu saat nanti aku ingin menjadi astronot. Karena aku penasaran dengan langit. Seluas apakah ia di banding bumi dan mahluk apa sajakah yang nantinya ku temui disana? Yah, dengan bermimpi seakan semua yang aku inginkan seakan terwujud.

Malam Membunuh Pagi

Malang 2012

1
Hangat matahari pagi menyambut kegiatan pertama ku berorganisasi di luar aktifitas kampus tahun ini. Ini adalah organisasi pertama dari daerah asalku yang baru aku ikuti karena selain menambah teman, aku juga ingin menambah wawasan organisasi plus pengetahuan mengenai daerah dan mungkin bonusnya... ehemm... ehemm Hehe.

Iren adalah panggilanku, Mahasiswi jurusan Pendidikan Matematika di salah satu perguruan tinggi swasta terbaik di Kota Malang. Aku terlahir sebagai sesosok perempuan yang ‘sok’ dewasa di usia 18 tahun namun masih memiliki sifat manja, begitulah pendapat dari sahabat sahabatku Nila dan Sisi.