Pernahkah kau mendengar kisah sepasang kekasih yg saling mencintai namun tak bisa bertemu karena terpisah jarak, tempat dan waktu?Pernahkah kau membaca riwayat si pemuja cinta yg haus akan kerinduan pada sosok yg dinantinya, sehingga siang malam ia menjadi gila karena tak pula berjumpa?
Sahabat, mari kuceritakan seseorang anak manusia yg mengabdi pada apa yg dicintainya. Ia tegar meski rapuh, penuh derita menahan rindu berkepanjangan. Sebuah kisah penuh cinta kasih juga hasrat kerinduan. Kisah inspirasi yg ku sebut renjana...
Setiap hari ia bercumbu dengan rindu berharap kekasihnya tetap pula mencinta, meski disiksa oleh ketabahan menjalani rasa nan perih karena tak jua berjumpa. Mencintai dalam keikhlasan adalah hakikat pengorbanan dalam cinta baginya. Ia tak butuh rangkaian bunga, syair2 puisi mesra, atau kata kata mutiara sebagai penghibur dari kekasihnya. Ia hanya butuh Dia seutuhnya.
Waktu berkelana semakin jauh, orang itu semakin rindu dalam ombak rasa yg kian bergemuruh. Yang ia dengar adalah suara jawaban dari kekasihnya dan itupun dari dalam hatinya. Sebagai wanita ia hanya bisa bahagia di dalam tangisnya, memendam hasrat utk bertemu kekasihnya dlm lubuk hati terdalam. Ia tumbuh bersama paras nan elok, kesalehan serta kecerdasan tinggi hingga membuat semua pria tunduk di bawah pesonanya. Sampai suatu hari pernah ada tiga pemuda datang tuk melamarnya. Mereka bersahabat, dan yg paling alim di tunjuk sebagai jubir. Hasan Basri namanya. Ia bertanya " Adakah aku saat meninggal dunia dalam keadaan muslim ataukah kafir? Kedua, kapan aku masuk dalam kubur, dan jika Munkar-Nakir menanyaiku, mampukah aku menjawab mereka?Ketiga, kapan manusia dikumpulkan pada hari kebangkitan dan buku-buku dibagikan? Berapa yang menerima buku dengan tangan kanan dan berapa dengantangan kiri? Keempat, kapan umat manusia dikumpulkan pada hari pengadilan, berapa yang masuk surga dan berapa yang ke neraka, di antara kedua kelompok itu, kelompok manakah aku?” Hasan Basri tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut karena hanya Allah yang mengetahuinya. Kemudian ia berkata :“jika empat pertanyaanku saja tak bisa kau jawab, lantas bagaimana pernikahan kita?". Hasan Basri dan kedua sahabatnya yg juga sainganya tertunduk malu sekaligus takjub pada nalarnya.
Ya, ia tau bahwa yg bisa menjawab itu adalah hanya kekasihnya. Tak kan lari selangkahpun hatinya pd Dia. Di salah satu sya'irnya pada sang Kekasih ia berkata "jika aku menyembah-Mu karena takut api neraka-Mu maka bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga-Mu maka haramkanlah aku daripadanya. Tetapi jika aku menyembah-Mu karena kecintaanku kepada-Mu maka berikanlah aku balasan yang besar, berilah aku melihat wajah-Mu yang Maha Besar dan Maha Mulia itu".
Tak seorang lelakipun bisa memilikinya. Cintanya begitu besar pada Rabb nya, membuat ia terus berjuang agar bisa berjumpa dengan Kekasihnya. Inilah kisah cinta mulia nan abadi dari hamba kepada Tuan nya. Cinta yg tak perduli pamrih, cinta yg tak kenal menyerah, cinta yg menepis nafsu dunia, cinta yg tak pandang jarak, tempat dan waktu. Inilah kisah renjana, cinta lewat kerinduan dari seorang wanita biasa. Namanya Waliyullah Rabi'ah Al Adlawiyah. Tokoh sufi besar dan perempuan pertama. Seorang Muhatiz pencetus Mazhab Cinta jauh sebelum Jalaluddin Rumi dan para Tabi'in lain. Semoga kisah ini membawa Ibrah bagi kita semua. Aamiin
Jaksel, 10 Juni 2016 : 13.39 wib
Achmad Rohani
Achmad Rohani
Tidak ada komentar:
Posting Komentar